Berwirausaha Tidak Butuh Gelar Sarjana

Berwirausaha Tidak Butuh Gelar Sarjana

Gelar akademik tidak berpengaruh pada kesuksesan seseorang di masa depan. Ini terbukti dari banyaknya jumlah pengangguran yang berasal dari lulusan SMA atau perguruan tinggi. Terlebih bagi mereka yang ingin berwirausaha. Yang dibutuhkan calon wirausahawan bukanlah teori, melainkan praktek dan keterampilan bekerja yang relevan dengan kehidupan.

Dalam forum diskusi “Entrepreneurship Experiencing”, pengusaha sukses Bob Sadino bahkan mengajak para mahasiswa untuk berhenti melanjutkan studinya dan segera membuka bisnis pribadi. Menurutnya, yang dibutuhkan Indonesia saat ini bukanlah lulusan sarjana dengan gelar akademik yang tinggi, melainkan sumber daya manusia yang potensial untuk memperbaiki perekonomian negara.

Hal senada juga disampaikan oleh pebisnis Wahyu Saidi. Menurutnya, gelar kesarjanaan justru akan menghambat seseorang untuk memulai usaha. Kewirausahaan terkait erat dengan pekerjaan sederhana yang membutuhkan keterampilan. Pekerjaan sederhana tersebut acapkali menyinggung harga diri para lulusan sarjana. Sering terjadi, lulusan perguruan tinggi enggan berwirausaha karena gengsi dan tidak mau melakukan pekerjaan soft skill. Melakukan pekerjaan soft skill seperti ini dinilai akan membuat tahun-tahun yang mereka habiskan di universitas menjadi sia-sia.

Wahyu menambahkan, sulit bagi seorang sarjana untuk menerapkan teori yang pernah dipelajarinya sebelum ia membuka bisnis pribadi.Ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi akan bermanfaat ketika seseorang sudah memiliki bisnis. Untuk pengembangan bisnis, dibutuhkan pengetahuan tentang pengelolaan usaha, manajemen bisnis, mekanisme kerja, dan kemampuan komunikasi yang efektif dengan para buyer. Pada saat inilah, teori di bangku kuliah akan menjadi berguna.

Menurut Bob, tidak seharusnya kaum muda menunda berwirausaha. Sebenarnya, ada potensi bagi kaum muda untuk membuka bisnis pribadi. Hal ini tercermin dari banyaknya mahasiswa yang mencoba berjualan bermacam jenis dagangan di kampusnya. Pekerjaan sampingan seperti ini dilakoni banyak mahasiswa untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Potensi berbisnis semacam ini harusnya dilanjutkan ke tahap yang lebih serius, misalnya dengan membuka bisnis pribadi setelah lulus perguruan tinggi.

Tekanan dari orang tua

Bob dan Wahyu sama-sama menyadari bahwa para orang tua menginginkan anaknya menuntut ilmu setinggi langit. Belum lagi ditambah dengan anggapan yang diyakini orang tua bahwa tanpa gelar sarjana, putra-putrinya tidak akan sukses di masa depan.

Pandangan orang tua ini tidak bisa disalahkan. Budaya Indonesia masih mendukung adanya stigma bahwa mereka yang tidak berpakaian formal dan bekerja kantoran bukanlah golongan orang sukses. Menghadapi pandangan seperti ini, Bob mengatakan bahwa sudah saatnya orang tua dan seluruh masyarakat Indonesia mengubah sudut pandang.

Menurut Bob, tidak ada yang perlu dikhawatirkan para orang tua selama apa yang dilakukan anaknya adalah pekerjaan yang halal. Tidak selamanya bekerja kantoran menjadi tolak ukur kesuksesan masa depan seseorang. Bahkan, orang tua seharusnya bangga melihat anaknya membuka bisnis pribadi sebab dibutuhkan mental sekuat baja dan tidak cengeng untuk memulai usaha.


Recommended Services

Belum Ada Komentar

Isi Komentar